KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Filsafat Ketuhanan dalam Islam”. Makalah ini berisikan tentang informasi Filsafat Ketuhanan dalam Islam atau yang lebih khususnya membahas tentang ketuhanan.
Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.
Batang, 25 September
2015
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................... 1
Daftar Isi........................................................................................................ 2
BAB I Pendahuluan....................................................................................... 3
A. Latar Belakang................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 3
BAB II Pembahasan...................................................................................... 4
A. Konsep Ketuhanan dalam Islam........................................................ 4
B. Cakupan Kajian Ketuhanan............................................................... 6
C. Pandangan para Filosof Muslim tentang Tuhan................................. 9
BAB III Penutup........................................................................................... 12
A. Kesimpulan ........................................................................................ 12
B. Saran................................................................................................... 12
Daftar Pustaka................................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam
sejarah peradaban Yunani, tercatat bahwa pengkajian dan kontemplasi tentang
eksistensi Tuhan menempati tempat yang khusus dalam bidang pemikiran filsafat.
Contoh yang paling nyata dari usaha kajian filosofis tentang eksistensi Tuhan
dapat dilihat bagaimana filosof Aristoteles menggunakan gerak-gerak yang nampak
di alam dalam membuktikan adanya penggerak yang tak terlihat.
Tradisi
argumentasi filosofis tentang eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya ini
kemudian secara berangsur-angsur masuk dan berpengaruh ke dalam dunia keimanan
Islam. Tapi tradisi ini, mewujudkan semangat baru di bawah pengaruh doktrin-doktrin
suci Islam dan kemudian secara spektakuler melahirkan filosof-filosof seperti
Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan secara riil, tradisi ini juga mempengaruhi warna
pemikiran teologi dan tasawuf dalam penafsiran Islam.
Perkara
tentang Tuhan secara mendasar merupakan subyek permasalahan filsafat. Ketika
kita membahas tentang hakikat alam maka sesungguhnya kita pun membahas tentang
eksistensi. Filsafat tidak mengkaji suatu realitas yang dibatasi oleh ruang dan
waktu atau salah satu faktor dari ribuan faktor yang berpengaruh atas alam.
Pencarian kita tentang Tuhan dalam koridor filsafat bukan seperti penelitian
terhadap satu fenomena khusus yang dipengaruhi oleh faktor tertentu.
Tuhan yang hakiki adalah Tuhan yang
disampaikan oleh para Nabi dan Rasul yakni, Tuhan hakiki itu bukan di langit
dan di bumi, bukan di atas langit, bukan di alam, tetapi Dia meliputi semua
tempat dan segala realitas wujud.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
konsep tentang Tuhan dalam kajian Islam ?
2. Bagaimana pembuktian wujud tuhan dalam islam
?
3. Bagaimana pemikiran para filosof muslim
tentang tuhan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep
Ketuhanan dalam Islam
Apakah
konsepsi tentang tuhan itu mungkin? Karena bangunan konseptual pemikiran
terdiri atas definisi-definisi yang jelas atas berbagai faktor, yang kemudian
dirangkai dalam suatu pengertian yang sistematik, koheren dan konsisten. Apakah
definisi tentang tuhan itu juga ungkin? Padahal tuhan tidak terbatas, mutlak
dan ghaib.
Secara
keilmuan, tuhan tak pernah dan tak mungkin menjadi kajian ilmu, karena kajian
ilmu selalu parsial, terukur dan terbatas dan dapat diuji secara berulang-ulang
pada labolatorium percobaan keilmuan. Dengan demikian, kehendak untuk
membuktikan adanya tuhan melalui pendekatan ilmu, akan mengalami kegagalan
karena sudah sejak awal tidak benar secara metodologis. Jika ilmu tidak bisa
menghadirkan tuhan dalam laboratorium untuk diujicobakan, bukan berarti lantas
tuhan tidak ada, karena yang terjadi adalah kesalahan pada pendekatan
metodologisnya.[1]
Al
Qur’an menggambarkan pencarian tuhan dengan menunjuk salah satu faktor alam
yang dianggap layak sebagai tuhan, digambarkan dalam logika Nabi Ibrahim
mencari tuhan-Nya. Al Qur’an 6:76-79 menegaskan :

Artinya
: “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata:
"Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
"Saya tidak suka kepada yang tenggelam” (76). “Kemudian tatkala dia
melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah
bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi
petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat"(77). “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata:
"Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu
terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan” (78). “ Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku
kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama
yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”
(79).
Memasuki periode klasik, pemikiran Yunani sudah mulai turun dari
alam besar, dengan corak pemikiranya yang dualistik. Manusia sudah mulai
mengambil jarak dengan alam dan berusaha untuk mengolah alam, dan dalam proses
itu yang menentukan keadaanya adalah diri sendiri, kemampuan berfikir, bukan
ditentukan dari luar dirinya. Oleh kemampuan manusia mengolah dan menundukan
alam, maka ia dapat membentuk alam seperti yang dikehendakinya, seakan-akan
dialah yang menentukan segala-galanya. Manusia mengatur segalanya seperti raja
dan terus mengolah bumi, kemudian menjadikan dirinya seperti tuhan. Tuhan
sebagai yang menentukan dalam kehidupan ini, dengan ditundukannya alam oleh
kecerdasan manusia, maka manusialah yang bertindak sebagai tuhan. Seperti kekuasaan
raja Fir’aun yang mengangkat dirinya sendiri sebagai tuhan yang memgang
kekuasaan mutlak, zalim, dan menindas yang lemah seperti yang digambarkan dalam
Al Qur’an.
Pada perkembangan selanjutnya, manusia telah mencapai puncak
peradaban yang lebih tinggi, dengan membangun simbol-simbol yang merefleksian
kekuatan, kekayaan dan kekuasaanya. Maka terjadilah pergeseran, dimana manusia
lantas menunjukan kehebatnnya melalui simbol yang dibuatnya sendiri, sehingga
manusia memuja simbol-simbol yang dibuatnya sendiri. Pada konsep ini, konsep
tuhan atau yang dipertuhan, ternyata turun lebih rendah lagi tingkatanya, bukan
kekuasaan dibalik macro-cosmos atau salah satu faktor dominan didalamnya dan
juga bukan micro-cosmos, yaitu eksistensi manusia dengan kekuatan ide dan
kemampuan kecerdasan kreatifnya, tetapi turun pada apa yang dibuatnya sendiri,
yaitu simbolisasi dari benda-benda yang dibuatnya sendiri, dengan
mempertuhankan patung-patung, berhala-berhala.
Dari perkembangan berhala-berhala atau patung-patung yang dibuatnya
sendiri dan dipertuhankanya sendiri, maka dengan kemajuan ilmu dan teknologi
yang makin canggih, manusia meciptakan sistem kebudayaan yang berorientasi pada
cita-cita sosial yang makin kompleks, karena berhadapan dengan realitas sosial
dan kehidupan masyarakat yang bersifat plural dan kompleks. Pada perkembangan
ini, manusia menciptakan ideologi dan mengabdikan hidupnya untuk sebuah
ideologi, bahkan mempertuhankanya, mereka siap membela mempertaruhkan nyawa
untuk memenangkan ideologisnya, suatu perjuangan yang menuntut suatu totalitas.[2]
Konsep tuhan sebagai kekuatan dahsyat yang menentukan kehidupan
telah bergeser kepada sistem konsentrasi kesatuan kerjasama elite kepentingan
antara ilmu pengetahun dan teknologi dengan kekerasan milter, kekuasaan politik
dan kekuatan ekonomi industrial yang sifatnya sudah mengglobal, yang membuat
dunia makin sempit dan batas-batas negara mulai transparan dan terbuka, menuju
apa yang disebut masyarakat dunia yang terbuka, atau open society, dimana
terjadi perpindahan yang cepat dan bergerak dari satu daerah ke daerah lain
tanpa bisa dihambat.
B.
Cakupan Kajian
Ketuhanan
Dalam
membahas ketuhanan, setidaknya ada 5 hal yang harus dicakup, antara lain :
1.
Wujud
Keberadaan
dan eksistensi Tuhan adalah masalah yang paling awal dan mendasar. Percaya atau
tidaknya akan adanya Tuhan, pada akhirnya akan mempengaruhi cara dan pola
kehidupan yang dijalani manusia. Beberapa argumen bukti adanya Tuhan dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a.
Argumen Naqli,
yaitu argumen yang dikemukakan oleh ayat-ayat Al Qur’an atau wahyu Illahi atau
segala informasi yang diyakini berasal dari Tuhan. Beberapa bukti eksistensi
Tuhan dalam Al Qur’an antara lain adalah surat Al Ankabut (29):61 :

Artinya
: Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka itu:
Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan yang memudahkan matahari dan
bulan? Sudah tentu mereka akan menjawab: Allah. Maka bagaimana mereka tergamak
dipalingkan (oleh hawa
nafsunya).
b.
Argumen Aqli,
yaitu argumen yang dikemukakan merupakan produk pemikiran rasio akal manusia,
sepanjang yang bisa dipikirkan dan yang mungkin terpikirkan. [3]
Beberapa dalil akal tersebut antara lain adalah :
1. Dalil gerak
Ada
suatu ujung yang tidak digerakkan dan ujung itu merupakan suatu sumber segala macam
gerakan dan tujuan akhir semua gerakan yang disebut sebagai penggerak yang
tidak digerakan.
2.
Sebab Akibat
Setiap
sesuatu tidak lepas dari hukum sebab akibat. Dalam suatu rantai sebab akibat
tersebut harus ada ujung dari pada sebab, yang menjadi sebab utama sekaligus
menjadi sumber sebab akibat dan tujuan dari sebab akibat itu.
3.
Dalil Wujud
Dalil
kejadian bahwa setiap yang ada pasti ada yang mengadakan. Tidak mungkin
keberadaan alam ini tidak ada yang mengadakan. Secara rasio akan meniscayakan
adanya wujud yang pertama yang menjadi asal dan paling fundamental-sejati.
c.
Dalil Empiris
Bukti-bukti wujud Tuhan secara empiris maksudnya adalah bukti yang
didapat dari hasil pengamatan indrawi secara langsung terhadap fenomena alam
sekitar manusia, termasuk manusia itu sendiri.
d.
Dalil
Psikofisik
Argumentasi yang berhubungan dengan keberadaan jiwa manusia misteri
jiwa tau ruh dapat mengantarkan kepada keberadaan tuhan, melalui penempaan
spiritual, atau juga melalui fenomena mimpi, sebagaimana yang dialami para Nabi
dalam menerima wahyunya.
e.
Argumen Moral
Argumen tentang nilai baik dan buruk yang ada dalam realitas
kehidupan nyata ini. Dalil Moral menyatakan kebaikanyang dilakukan manusia akan
memperoleh keselamatan sebagai imbalanya. Sebaliknya, siapa yang berbuat
kejahatan akan menerima imbalan kesengsaraan dan penderitaan.
2.
Dzat Tuhan
Pembahasan tentang dzat Allah merupakan hal yang pelik dan
membutuhkan pemikiran jernih dan mendalam. Dengan demikian larangan berfikir
tentang dzat Tuhan tidak bersifat mutlak, namun melihat keadaan pemikiran
seseorang.
3.
Sifat
Membahas sifat tuhan tidak bisa dilepaskan dari dzat, wujudnya dan
juga namanya. Sebab sifat adalah suatu yang melekat pada suatu realitas, yang
apabila sesuatu itu lepas maka realitas telah kehilangan sebutanya. Dalam hal pensifatan Tuhan, ada dua aliran
pemikiran yang perlu dikenal, yaitu aliran antrophomorfisme atau disebut
sebagai tasybih, yaitu menyerupakan sifat Tuhan dengan sifat manusia
yang dapat dikenali dengan mudah oleh manusia. Sementara yang kedua teophomorfisme
atau tanzih, yaitu ketidakserupaan
sama sekali sifat tuhan dengan sifat manapun mahluknya, dan hanya tuhan sendiri
yang tahu hakekat sifatnya.
4.
Nama-nama Tuhan
Nama adalah sebutan yang bersifat simbol yang dinisbahkan kepada
suatu realitas. Nama-nama tuhan adalah simbol yang digunakan untuk menunjukan
realitas Tuhan, yang mencakup wujud, dzat, dan sifat-Nya.
5.
Af’al,
Perbuatan Tuhan
Yaitu apa saja yang telah, sedang dan akan dilakukan Tuhan dalam
kehidupan semesta ini. Perbuatan Tuhan, juga tidak lepas dari maujud, dzat,
nama dan sifatNya.
C.
Pandangan para
Filosof Muslim tentang Tuhan
1.
Al Kindi
Sebagai filosof pertama islam,
menyatakan bahwa Tuhan sebagai sebab pertama yang wujudnya menjadi sebab bagi
wujud yang lain. Dia mempersepsikan Tuhan sebagai sebab beranjak dari keyakinan
bahwa suatu kejadian tidak bisa terjadi karena dirinya sendiri, tetapi terjadi
karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah yang disebut sebab,
sedangkan kejadian itu sendiri disebut akibat. Kejadian selalu mengandaikan
adanya perubahan, setiap perubahan atau kejadian membutuhkan alasan yang
memadai untuk pengaktualannya. [4]
Tuhan dikatakan sebagai sebab
pertama, yang menunjukkan betapa Ia adalah sebab paling fundamental dari semua
sebab-sebab lainnya yang berderet panjang. Sebagai sebab pertama, maka Ia
sekaligus adalah sumber, dari mana sesuatu yang lain, yakni alam semesta
berasal.
2.
Ibnu Sina
Ibnu Sina berpendapat bahwa Akal Pertama mempunyai dua
sifat : sifat wajib wujudnya, sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin
wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya. Dengan demikian ia mempunyai tiga
obyek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai
mungkin wujudnya. Dari pemikiran tentang Tuhan, timbul akal-akal, dari
pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa-jiwa dan dari
pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul langit-langit.
Ibnu Sina dalam membuktikan adanya Tuhan Yang Maha
Esa, Dialah Allah, maka ia tidak perlu mencari dalil dengan salah satu
makhluknya, tetapi cukup dalil adanya Wujud Pertama, yakni ; Wajibul Wujud.
Sedangkan jagad raya ini, yakni mumkinul wujud memerlukan sesuatu sebab
(’illat) yang mengeluarkannya menjadi wujud karena wujudnya tidak dari zatnya
sendiri. Dengan demikian, dalam menetapkan Yang Pertama (Allah, kita tidak
memerlukan perenungan selain terhadap wujud itu sendiri, tanpa memerlukan
pembuktian wujud-Nya dengan salah satu makhluk-Nya.[5]
3.
Al Ghazali
Dalam
membuktikan adanya Tuhan, Al-Ghazali juga memegang pendapat Asy’ariyah, yakni
tertumpu pada bukti teleology (kalamiah). Untuk itu dia menyatakan bahwa
alam yang rumit penciptanya dan kokoh aturannya itu pasti bersumber pada sebab
yang mengatur dan menata, sedangkan karya-karya yang kokoh menunjukkan ilmu dan
hikmah si pencipta. Mengenai problema
sifat-sifat Allah, Al-Ghazali memegang pendapat yang dianut oleh al-Asy’ari,
sehingga dia tidak menerima pendapat aliran Hasywiyah yang berpegang teguh pada
arti dari suatu teks (ayat al-Qur’an dan sunnah) agar mereka tidak mengosongkan
Allah dari sifat-sifat. Demikian juga Al-Ghazali tidak menerima pendapat
Mu’tazilah yang berlebih-lebihan dalam menyucikan Allah, sehingga mereka harus
menafikan sifat-sifat Allah. Yang paling baik menurut Al-Ghazali adalah
tengah-tengah. Menurut Al-Ghazali, Allah adalah satu-satunya sebab bagi alam.
Alam ia ciptakan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya, karena kehendak Allah
adalah sebeb bagi segala yang ada, sedang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
4.
Ibnu Thufail
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya
satu pencipta, sebab dunia tidak bisa maujud dengan sendirinya. juga sang
pencipta bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia
di ciptakan oleh satu pencipta. di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat
material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil.
oleh karena itu dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda.dan karena dia bersifat immaterial, maka kita
tidak dapat mengenalinya lewat indra kita ataupun lewat imajinasi, sebab
imajinisasi hanya menggambarkan hal-hal di tangkap oleh indra.
Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana di
katakan oleh aristoteles, membutuhkan penggerak atau penyebab efesien dari
gerak itu.jika penyebab efesien ini
berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu
menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas.oleh
sebab itu penyebab efesien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. ia tidak
boleh di hubungkan dengan materi ataupun di pisahkan darinya, ada di dalam
materi itu atau tanpa materi itu, sebab penyatuan dan pemisahan, keterkandungan
atau keterlepasan merupakan tanda-tanda material, sedang penyebab efesien itu,
sesungguhnya lepas dari itu semua.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah menyelesaikan makalah ini, kami dapat menyimpulkan bahwa konsep
Ketuhanan dapat diartikan sebagai kecintaan, pemujaan atau sesuatu yang
dianggap penting oleh manusia terhadap sesuatu hal (baik abstrak maupun
konkret). Filsafat Ketuhanan dalam Islam merupakan aspek ajaran yang
fundamental, kajian ini harus dilaksanakan secara intensif.
Dalam membahas
ketuhanan, setidaknya ada 5 hal yang harus dicakup antara lain, wujud, dzat,
nama, pebuatan dan Sifat-sifat Tuhan. Serta didalamnya terdapat beberapa hasil
pemikiran filosof muslim yang turut menyampaikan gagasanya mengenai wujud tuhan
yakni Ibnu Sina, Al Kindi, Ibnu Thufail dan Al Ghazali.
B.
Saran
Sebagai
seorang pemula, kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Karena
saran dan kritik itu akan bermanfaat bagi kami untuk memperbaiki atau
memperdalam kajian ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Prof.
Dr. Musa Asy’arie, FILSAFAT ISLAM Sunnah nabi dalam berfikir, Yogyakarta :
LESFI, 2013
Prof.
Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A, Filosof dan Filsafatnya, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada, 2004
Imam Khanafie Al-Jauharie, Filsafat Islam Pendekatan Tematik, Yogyakarta:
Gama Media 2006
https://baktiraharjo.wordpress.com/48/
(diakses tanggal 25 September 2015)
[1] Prof. Dr. Musa Asy’arie, FILSAFAT ISLAM
Sunnah nabi dalam berfikir, (Yogyakarta : LESFI, 2013) hlm. 153
[2]
Prof. Dr. Musa Asy’arie, FILSAFAT ISLAM Sunnah nabi dalam berfikir,
(Yogyakarta : LESFI, 2013) hlm. 159
[3]
Imam Khanafie Al-Jauharie, Filsafat Islam Pendekatan Tematik, (Yogyakarta: Gama
Media 2006) hlm. 45
[4]
Prof. Dr. H. Sirajuddin Zar, M.A, Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada, 2004) hlm. 216
terimakasih, sangat membantu
BalasHapusluar biasa terima kasih
BalasHapus