MAKALAH
“BELAJAR DENGAN RAJIN”
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah:
Hadist Tarbawi
Dosen
pengampu: Ahmad Rifa’I M.Ag

Disusun
oleh:
Rofiq
Hidayat ( 2021114127 )
Kelas F
JURUSAN
TARBIYAH PAI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sumber
hukum islam hadits atau sunnah ini menduduki posisi yang sangat signifikan ,
baik secara struktural maupun secara fungsional. Secara struktural hadits atau
sunnah ini menduduki posisi kedua sebagai sumber hukum setelah al-qur’an,
sedangkan secara fungsional hadits atau sunnah ini merupakan bayan (
penjelasan) terhadap ayat-ayat al-qur’an yang masih bersifat global dan mutlak.
Sebagai
sumber hukum yang kedua, hadits atau sunnah ini memiliki peran sebagi penjelas
dan pemerinci hukum- hukum yang mengatur kegiatan muamalah seluruh umat muslim,
seperti halnya hadits-hadits yang mengatur tentang pendidikan. Dimana
pendidikan mempunyai arti dan peranan penting bagi manusia guna menggairahkan
dalam melakukan pengabdian kepada Allah. Pendidikan memiliki tujuan untuk
menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan
kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan mendorong aspek
tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup. Namun untuk
mewujudkan hal tersebut manuasia sering tergoda oleh sifat-sifat buruk,
terutama rasa malas. Erat
kaitannya dengan hal itu dalam makalah ini akan dibahas tentang hadist
tentang peserta didik khususnya “Belajar Dengan Rajin”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Belajar Dengan Rajin
1.
Materi Hadist
قَالَ أَبُو
هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ
وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّم
2.
Terjemah
Abu Hurairah pernah berkata
:” Sungguh aku membagi malamku menjadi tiga bagian yaitu sepertiga waktu malam
untuk tidur, sepertiga untuk beribadah dan sepertiga lagi untuk mempelajari
hadist Rasulullah Sallahu’alaihi Wassalam”.
3. Keterangan Hadist
Abu Hurairah dikenal dengan penghafal
hadist terbesar sepanjang masa. Beliau memiliki kelebihan yang luar biasa dalam
mengingat dan menghafal dari apa yang didengarnya. Beliau sangat dekat dengan
Rasu, beliau pun sering mendengar dan hadist-hadist Rasulullah dan menghafalnya.
Abu Hurairah
berkata bahwa malam hari beliau bagi menjadi tiga bagian malam yaitu
sepertiga untuk tidur , sepertiga untuk ibadah malam, sepertiga untuk
belajar hadist-hadist yang pernah beliau dengar dari Rasulullah.[1] Dan
maksud dari hadist ini yaitu, sepertiga malam yang pertama yakni kurang lebih jam
18.00-22.00 untuk belajar, sepertiga malam yang kedua yakni antara jam
22.00-02.00, digunakan untuk mengistirahatkan badan, dan sepertiga terakhir
antara jam 02.00-menjelang subuh digunakan untuk beribadah. [2]
4. Nilai Tarbawi
Umat islam menaruh
perhatian secara serius terhadap kegiatan belajar, karena belajar diperintahkan
bahkan diwajibkan dalam islam. Imam Al Ghazali juga memandang bahwa belajar
adalah sangat penting serta menilai sebagai kegiatan yang terpuji. Sebagai
penuntut ilmu atau dengan kata lain sebagai peserta didik harus memiliki
prinsip wajib belajar yaitu prinsip yang menekankan agar setiap orang dalam
islam merasa bahwa meningkatkan kemampuan diri dalam bidang pengembangan wawasan
pengetahuan, keterampilan, intelektual, spiritual, dan sosial merupakan
kewajiban yang harus dilakukan.[3]
Menghilangkan sifat malas adalah sebuah kewajiban dan menanamkan sifat tekun
sebagai penggantinya.
Agar anak didik memeperoleh
ilmu yang bermanfaat diperlukan adab atau tata krama untuk mengikuti pendidikan
islam. Seperti yang diungkapkan Imam Al-Ghazali yaitu :
a.
Hendaklah seorang pelajar
mengemukakan cita-citayang suci murni dipenuhi oleh semangat yang suci.
b.
Jangan menyombongkan diri,
karena ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Jangan mengambil tambahan pelajaran sebelum
memahami pelajaran yang lama.
Hendaklah tujuan pendidkan itu dihadapkan untuk
mendekatkan diri kepada Allah [4]
Mohammad Athiyah al-Abrasy menyebutkan beberapa kewajiban yang
dilakukan seorang pendidik, yaitu:
a.
Menjalin hubungan yang
harmonis dengan guru.
b.
Memuliakan guru.
c.
Tekun dan
bersungguh-sungguh.
d.
Memelihara rasa
persaudaraan dan persahabatan sesama penuntut ilmu.
e.
Belajar sepanjang hayat.
f.
Hendaklah siswa tekun
belajar, mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh,waktu
anatara isya dan malam sahur itu adalah waktu yang penuh berkah.
Burhan al-Din al-Zarnuji
mengemukakan pendapat Ali bin Abi Thalib tentang enam hal penting yang
perlu dilakukan oleh peserta didik melalui syairnya sebagai berikut :
“Ingatlah! Engkau tidak akan
memperoleh ilmu, kecuali dengan enam syarat, aku akan menjelaskan enam syarat
itu padamu yaitu kecerdasan, motivasi yang kuat, kesabaran, modal, petunjuk
guru, dan masa yang panjang”. [5]
Menurut Syekh Az Zarnuji
dalam kitab Ta’limul Muta’allim menerangkan beberapa sifat dan tugas para
penuntut ilmu :
a.
Tawadhu sifat sederhana,
tidak sombong tidak pula rendah diri
b.
Tabah, tahan dalam
menghadapi kesulitan pelajaran dari guru.
c.
Cinta ilmu dan hormat
kepada Guru dan keluarganya dengan demikian ilmu iyu akan bermanfaat.
d.
Sayang kepada kitab,
menyimpan dengan baik.
e.
Teguh pendirian dan ulet
dalam menuntut ilmu.
f.
Wara’ ialah sifat menahan
diri dari perbuatan yang terlarang.
g.
Punya cita-cita yang tinggi
dalam mengejar ilmu pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
Belajar mempunyai peranan
penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang jadi pandai, ia akan mengetahui
terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa belajar orang tidak akan
menegtahui sesuatu apapun. Dari uraian makalah ini dapat disimpilkan bahwa
belajar adalah perbuatan yang terpuji. Disamping belajardapat menambah ilmu
penegtahuan baik teori maupun praktek, belajar juga dapat dinilai sebagai
ibadah kepada Allah. Orang yang belajar dengan sungguh-sungguh disertai niat
ikhlas ia akan memperoleh pahala . Belajar juga dinilai sebagai perbuatan yang
mendatangkan ampunan dari Allah. Demikian pentingnya belajar ini sehingga dihargai
sebagai Jihad Fi sabilillah yang pahalanya disamakan dengan orang yang
berperang dijalan Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Muliawan,Ungguh, Pendidikan Islam Integratif
Upaya Mengintegratifkan Kembali Dikotonomi Ilmu Islam Pendidikan
Islam, Yogyakarta. Pustaka Pelajar,2005.
Nata, Abudin, Ilmu
Pendidikan Islam, Jakarta. Kencana, 2010. Nengtari,
http//:wordpress.com/2012/08/08/manajemen-waktu-1/3
malam. (diakses tanggal 10 Oktober 2015 )
Uhbiyati,Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung. CV. Pustaka
Setia, 1998.
[1] Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif Upaya
Mengintegratifkan Kembali Dikotonomi Ilmu Islam Pendidikan Islam,
(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2005). Hlm. 98
[3]
Abudin Nata, Ilmu Pendidikan
Islam (Jakarta :Kencana,2010).hlm.103.
[4]
Nur
Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:Pustaka Setia,1998).hlm.107-108.
[5]
Abudin Nata op.cit.,
hlm.183.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar