hugs

Rabu, 16 Desember 2015

Study Kasus tentang Pendidikan karakter





MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“Dampak Positif dalam Iptek Bagi Siswa Sekolah”
Studi kasus di : SMA Negeri 1 Bandar


Makalah disusun sebagai tugas mata kuliah  Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pengampu : Khasani M.Pd



Disusun Oleh:
Rofiq Hidayat ( 2021114127 )
Kelas : PAI C

JURUSAN TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini, peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu fokus dalam pembangunan Indonesia. Pendidikan itu tidak hanya proses memberi atau menerima informasi tetapi ada satu hal penting yang harus diperhatikan yaitu kecerdasan emosional dan spiritual anak didik untuk melahirkan golden generation. Pendidikan karakter harus dimulai sejak kecil, bukan hanya oleh guru akan tetapi juga oleh orang tua dan masyarakat sekitar. Pembentukan dan pendidikan karakter itu tidak akan berhasil selama tidak ada kesinambungan dan keharmonisan antar lingkungan pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan disekolah harus diimbangi profesional guru yang tentunya diikuti kualitas pembelajaran dikelas.
Guru bangga melihat anak didiknya pandai dalam segala hal akan tetapi orang tua dan guru sekarang kalang kabut melihat anak didiknya yang pandai tetapi tidak akhlakul karimah ( tingkah laku yang baik ). Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap kebehasilan belajar disekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didiknya untuk mencapai tujuan hiupnya secara optimal. Oleh karena itu, mengapa pendidikan karakter sangatlah penting dan bagaimanakah pernan guru dalam membentuk serta pengembangan nilai dan karakter anak didik disekolah? Dan hal itulah yang ingin penulis kaji dalam pokok permasalahan makalah kali ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pentingnya pendidikan karakter pada siswa.
2.      Peran guru dalam pendidikan karakter.
3.      Kunci utama keberhasilan guru dalam mencerdaskan bangsa.
4.      Fungsi pendidikan karakter.

C.  Tujuan Penulisan Makalah
1.      Menjelaskan pendidikan karakter siswa.
2.      Memaparkan tujuan pendidikan karakter pada siswa.
3.      Menjelaskan keteladanan dan sejauh mana peran guru dalam membentuk pendidikan berkarakter.
4.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.

D.    Metode penulisan
Dalam memperoleh data untuk penulisan makalah ini maka penulis menggunakan beberapa metode diantaranya sebagai berikut :
1.    Metode Observasi dan wawancara
Dengan metode ini penulisan terjun langsung ke lapangan dan melakukan wawancara dengan salah seorang guru di SMA N 1 Bandar.
2.      Metode Literatur
a.       Penulis mengumpulkan dan mempelajari buku-buku referensi dan penunjang yang berkaitan dengan makalah.
b.      Penulis mengumpulkan data-data dari internet yang berkaitan dengan makalah.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pentingnya Pendidikan Karakter  pada siswa
Pendidikan karakter pada siswa adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, dan acting the good. Yakni suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, sehingga akhlak mulia bisa teukir menjadi habit of mind, heart and hands. Dengan demikian, kurang tepat jika menganggap pendidikan karakter hanya urusan mata pelajaran agama atau PKN. Pendidikan karakter melekat pada semua mata pelajaran, apalagi sekarang pemerintah menggunakan kurikulum baru yang disetiap kompetensi dasarnya ada pendidikan karakternya.
Pendidikan karakter siswa harus bermula dan ditanamkan dari lingkungan keluarga. Sebab keluarga adalah fondasi utama. Betapapun baiknya pendidikan formal disekolah, dan juga sudah didukung teknologi canggih  jika tidak didukung oleh lingkungan keluarga yang baik, hasilnya tidak akan memuaskan.[1] Pendidikan keluarga juga harus ditopang oleh lingkungan masyarakat yang sehat serta didukung oleh pemerintahan yang bersih. Meski terkadang pemerintahan yang bersih menjadi utopia. Namun jikan tidak begitu, pendidikan karakter akan sulit direalisasikandan hanya akan menjadi wacana saja, maka dari itu mari kita mulai sedini mungkin tentang pendidikan karakter siswa.
Pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai- nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
B.     Peran Guru dalam pendidikan karakter
1.      Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa dan disiplin. Berkenaan dengan wibawa, guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, intelektual dalam pribadinya serta memiliki kelebihan dan pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.
Sedangkan disiplin dimaksudkan bahwa guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional karena mereka bertugas unutk mendisiplinkan peserta didik didalam sekolah, terutama dalam pembelajaran.
2.      Guru Sebagai Pengajar
Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan dalam belajar. Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik, rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Apabila faktor tersebut dipenuhi maka pembelajaran akan berlangsung dengan baik.
3.      Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

C.    Kunci Utama dalam upaya mencerdaskan Bangsa
Apabila kita simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam mencerdaskan bangsa (kecerdasan otak dan hati) ada kunci utama sebagai seorang guru yang dirumuskan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo di depan memberi teladan. Guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menbentuk karakter peserta didiknya. Ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas. Seorang guru juga harus kreatif. Penggunaan media pembelajaran yang kreatif oleh guru juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Terakhir tut wuri handayani, di belakang memberi dukungan. Guru harus mampu memberikan dukungan motivasi ketika di belakang. Seorang guru pada masa ini dituntut mampu menjadi motivator bagi anak didiknya karena tanpa adanya motivasi seringkali para siswa malas bahkan tidak memahami tujuannya ke sekolah (belajar). Akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam mencerdaskan bangsa maka seorang guru harus mampu menjadi penyampai ilmu dan penyejuk qolbu (hati). Artinya seorang guru harus mampu menyampaikan ilmu baik secara langsung (ceramah) atau secara tidak langsung melalui metode pembelajaran tertentu. Dan seorang guru juga harus mampu menjadi sosok pribadi yang menyejukan hati peserta didiknya dan membawa mereka menuju kebaikan hati dan karakter.
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas.
Oleh karena itu, membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan selamanya.Maka dari itu guru memiliki peranan yang penting dalam membangun karakter bangsa.



D.    Fungsi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter berfungsi:
1.       mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.
2.      memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur.  
3.      meningkatkan peradaban bangsa yang kompetetif dalam pergaulan dunia
Di antara fungsi pendidikan yang berkarakter adalah:
1.      Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
2.      Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3.      Penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.[2]







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
        Tujuan lembaga pendidikan formal adalah sebagai tempat ilmu pengetahu-an,tempat mengembangkan bangsa,tempat untuk menguatkan masyarakat bahwa pendidikan itu panting guna bekal kehidupan di masyarakat. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan selamanya.Maka dari itu guru memiliki peranan yang penting dalam membangun karakter bangsa.
B.     Saran
1.Guru juga harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional karena mereka bertugas untuk mendisiplinkan peserta didik di dalam sekolah, terutama dalam pembelajaran.
2.Guru harus menanamkan disiplin yang dimulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan perilakunya.
                           
DAFTAR PUSTAKA

Narwanti, Sri. 2011. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Familia
Achmad D.Marimba,1974,Pengantar filsafat pendidikan,Bandung,AL-Maarif.
http://vhuthu26.blogspot.com/p/makalah.html?m=1 ( diakses tanggal 25 November 2014)
Tety Yulita Kadaati, SE. 29 April 2011. Peranan Guru dalam Pengembangan Nilai dan Karakter Anak di Sekolah.



LAMPIRAN
     

   










[1] Dian Rahmawati, “Makalah Pendidikan Karakter”. http://vhuthu26.blogspot.com/p/makalah.html?m=1 ( diakses tanggal 25 November 2014)
1Sri Narwanti, Pendidikan Karakter, Yogyakarta; Familia, 2011, hal. 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar