MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“Dampak Positif dalam Iptek Bagi Siswa Sekolah”
Studi kasus di : SMA Negeri 1
Bandar
Makalah disusun sebagai tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
Dosen Pengampu : Khasani M.Pd

Disusun Oleh:
Rofiq Hidayat ( 2021114127 )
Kelas
: PAI C
JURUSAN TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2014
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini,
peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu fokus dalam pembangunan
Indonesia. Pendidikan itu tidak hanya proses memberi atau menerima informasi
tetapi ada satu hal penting yang harus diperhatikan yaitu kecerdasan emosional
dan spiritual anak didik untuk melahirkan golden generation. Pendidikan
karakter harus dimulai sejak kecil, bukan hanya oleh guru akan tetapi juga oleh
orang tua dan masyarakat sekitar. Pembentukan dan pendidikan karakter itu tidak
akan berhasil selama tidak ada kesinambungan dan keharmonisan antar lingkungan
pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan disekolah harus diimbangi
profesional guru yang tentunya diikuti kualitas pembelajaran dikelas.
Guru bangga
melihat anak didiknya pandai dalam segala hal akan tetapi orang tua dan guru
sekarang kalang kabut melihat anak didiknya yang pandai tetapi tidak akhlakul
karimah ( tingkah laku yang baik ). Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil
yang sangat besar terhadap kebehasilan belajar disekolah. Guru sangat berperan
dalam membantu perkembangan peserta didiknya untuk mencapai tujuan hiupnya
secara optimal. Oleh karena itu, mengapa pendidikan karakter sangatlah penting
dan bagaimanakah pernan guru dalam membentuk serta pengembangan nilai dan
karakter anak didik disekolah? Dan hal itulah yang ingin penulis kaji dalam
pokok permasalahan makalah kali ini.
B. Rumusan Masalah
1.
Pentingnya pendidikan karakter pada siswa.
2.
Peran guru dalam pendidikan karakter.
3.
Kunci utama keberhasilan guru dalam mencerdaskan bangsa.
4.
Fungsi pendidikan karakter.
C.
Tujuan Penulisan Makalah
1. Menjelaskan pendidikan karakter siswa.
2. Memaparkan tujuan pendidikan karakter
pada siswa.
3. Menjelaskan keteladanan dan sejauh mana
peran guru dalam membentuk pendidikan berkarakter.
4. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar.
D.
Metode penulisan
Dalam
memperoleh data untuk penulisan makalah ini maka penulis menggunakan beberapa
metode diantaranya sebagai berikut :
1. Metode
Observasi dan wawancara
Dengan
metode ini penulisan terjun langsung ke lapangan dan melakukan wawancara dengan
salah seorang guru di SMA N 1 Bandar.
2. Metode
Literatur
a. Penulis
mengumpulkan dan mempelajari buku-buku referensi dan penunjang yang berkaitan
dengan makalah.
b. Penulis
mengumpulkan data-data dari internet yang berkaitan dengan makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pentingnya Pendidikan Karakter pada siswa
Pendidikan karakter pada siswa adalah untuk mengukir akhlak melalui
proses knowing the good, loving the good, dan acting the good. Yakni suatu
proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,
sehingga akhlak mulia bisa teukir menjadi habit of mind, heart and hands.
Dengan demikian, kurang tepat jika menganggap pendidikan karakter hanya urusan
mata pelajaran agama atau PKN. Pendidikan karakter melekat pada semua mata
pelajaran, apalagi sekarang pemerintah menggunakan kurikulum baru yang disetiap
kompetensi dasarnya ada pendidikan karakternya.
Pendidikan karakter siswa harus bermula dan ditanamkan dari
lingkungan keluarga. Sebab keluarga adalah fondasi utama. Betapapun baiknya
pendidikan formal disekolah, dan juga sudah didukung teknologi canggih jika tidak didukung oleh lingkungan keluarga
yang baik, hasilnya tidak akan memuaskan.[1]
Pendidikan keluarga juga harus ditopang oleh lingkungan masyarakat yang sehat
serta didukung oleh pemerintahan yang bersih. Meski terkadang pemerintahan yang
bersih menjadi utopia. Namun jikan tidak begitu, pendidikan karakter akan sulit
direalisasikandan hanya akan menjadi wacana saja, maka dari itu mari kita mulai
sedini mungkin tentang pendidikan karakter siswa.
Pendidikan
karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif,
penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara
nyata. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat diintegrasikan
dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang
berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu
dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pembelajaran nilai- nilai karakter tidak hanya pada tataran
kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi dan pengamalan nyata dalam
kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
B.
Peran Guru dalam pendidikan karakter
1.
Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah
pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik,
dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas
pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa dan disiplin. Berkenaan
dengan wibawa, guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai
spiritual, emosional, moral, sosial, intelektual dalam pribadinya serta
memiliki kelebihan dan pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai dengan
bidang yang dikembangkan.
Sedangkan
disiplin dimaksudkan bahwa guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata
tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional karena mereka bertugas
unutk mendisiplinkan peserta didik didalam sekolah, terutama dalam
pembelajaran.
2.
Guru Sebagai Pengajar
Guru
membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang
belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang
dipelajari. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang
bertugas menyampaikan materi pelajaran menjadi fasilitator yang bertugas
memberikan kemudahan dalam belajar. Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi
oleh berbagai faktor, seperti motivasi, kematangan, hubungan peserta didik,
rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Apabila faktor tersebut
dipenuhi maka pembelajaran akan berlangsung dengan baik.
3.
Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai
pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya
bertanggungjawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah
perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental,
emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan
dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas
pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan
mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah
dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap
anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh
karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh
masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa
dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah
Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai
Pancasila.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan
masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di
segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada
bidang-bidang dikuasainya.membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan
sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya
dengan baik.
C. Kunci Utama dalam upaya mencerdaskan
Bangsa
Apabila kita
simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas
mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama
adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih
baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam
mencerdaskan bangsa (kecerdasan otak dan hati) ada kunci utama sebagai seorang
guru yang dirumuskan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yaitu ing
ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ing ngarso sung
tulodo di depan memberi teladan. Guru sebagai teladan sangat dibutuhkan untuk
memberi contoh kebiasaan-kebiasaan baik yang akan menbentuk karakter peserta
didiknya. Ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas. Seorang guru
juga harus kreatif. Penggunaan media pembelajaran yang kreatif oleh guru juga
dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Terakhir tut wuri handayani,
di belakang memberi dukungan. Guru harus mampu memberikan dukungan motivasi
ketika di belakang. Seorang guru pada masa ini dituntut mampu menjadi motivator
bagi anak didiknya karena tanpa adanya motivasi seringkali para siswa malas
bahkan tidak memahami tujuannya ke sekolah (belajar). Akhirnya dapat
disimpulkan bahwa dalam mencerdaskan bangsa maka seorang guru harus mampu
menjadi penyampai ilmu dan penyejuk qolbu (hati). Artinya seorang guru harus
mampu menyampaikan ilmu baik secara langsung (ceramah) atau secara tidak
langsung melalui metode pembelajaran tertentu. Dan seorang guru juga harus
mampu menjadi sosok pribadi yang menyejukan hati peserta didiknya dan membawa
mereka menuju kebaikan hati dan karakter.
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa
pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik
rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas.
Oleh karena
itu, membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan,
bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan
masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh.
Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan
selamanya.Maka dari itu guru memiliki peranan yang penting dalam membangun
karakter bangsa.
D. Fungsi Pendidikan Karakter
Pendidikan
karakter berfungsi:
1.
mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik.
2.
memperkuat dan
membangun perilaku bangsa yang multikultur.
3.
meningkatkan
peradaban bangsa yang kompetetif dalam pergaulan dunia
Di
antara fungsi pendidikan yang berkarakter adalah:
1. Pengembangan:
pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini
bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya
dan karakter bangsa;
2. Perbaikan:
memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam
pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
3. Penyaring:
untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.[2]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan
peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan
(supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta
tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi
patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan
masyarakat.
Tujuan lembaga pendidikan formal adalah sebagai tempat ilmu pengetahu-an,tempat
mengembangkan bangsa,tempat untuk menguatkan masyarakat bahwa pendidikan itu
panting guna bekal kehidupan di masyarakat. Di samping itu tidak kalah
pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi
terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat
mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk
pembentukan karakter. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan
mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah
tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut
untuk dicontoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera
kini, esok dan selamanya.Maka dari itu guru memiliki peranan yang penting dalam
membangun karakter bangsa.
B.
Saran
1.Guru juga
harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas
kesadaran profesional karena mereka bertugas untuk mendisiplinkan peserta didik
di dalam sekolah, terutama dalam pembelajaran.
2.Guru harus menanamkan disiplin yang dimulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan perilakunya.
2.Guru harus menanamkan disiplin yang dimulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan perilakunya.
DAFTAR
PUSTAKA
Narwanti,
Sri. 2011. Pendidikan Karakter.
Yogyakarta: Familia
Achmad D.Marimba,1974,Pengantar filsafat pendidikan,Bandung,AL-Maarif.
http://vhuthu26.blogspot.com/p/makalah.html?m=1 ( diakses tanggal 25 November 2014)
Tety Yulita Kadaati, SE. 29 April 2011. Peranan Guru
dalam Pengembangan Nilai dan Karakter Anak di Sekolah.
LAMPIRAN




[1] Dian
Rahmawati, “Makalah Pendidikan Karakter”. http://vhuthu26.blogspot.com/p/makalah.html?m=1
( diakses tanggal 25 November 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar